Happy Human Rights Day

SEMANGGI

Ini surat ke-206 yang kutulis
untukmu, tuan presiden
Mungkin salah satunya sudah tuan baca,
ibu tua ini merindu anaknya

Tiga belas tahun lalu dia pergi kuliah
Mencium tanganku dia berkata,
Ibu aku akan pulang segera
Tunggulah aku untuk makan bersama

Jika tuan sudah membaca,
surat-suratku jelas bercerita
Anakku tak pernah kembali pulang
Seorang aparat menembaknya sore itu

Sebutir peluru menembus dadanya
Bersarang ia menghabisi nafasnya,
merenggut semangat dan nyawanya
mencerabut jiwaku

Hingga kini, tuan presiden
aku tak bisa lupa
Wajah anakku dan kaus yang dia kenakan
di hari itu

Mungkin sebab aku ibunya,
yang rahimnya pernah hangat membungkusnya
Yang teteknya pernah puas dihisapnya
Yang tak terbatas jumlah kasihnya

Tuan presiden,
ini surat ke-206 yang kutulis
Dan tak berhenti surat pasti kukirim
Terus menerus akan kutunggu jawabmu

Jawaban tuan untuk seorang ibu tua,
yang merindu sungguh
anak lakinya, dan keadilan
Dan keadilan

Catatan: Terinspirasi dari seorang ibu luar biasa yang saya temui hari ini (9 Desember). Selamat hari Hak Asasi Manusia (HAM), adili mereka yang tangannya berdarah.